Pencarian

Bika Bakar, Kudapan Jadul Khas Bengkulu yang Dibakar dengan Sabut Kelapa, Hanya Rp 1.500 Per Biji

Minggu, 26 Juli 2026 • 19:24:31 WIB
Bika Bakar, Kudapan Jadul Khas Bengkulu yang Dibakar dengan Sabut Kelapa, Hanya Rp 1.500 Per Biji
Penjual menyusun Bika Bakar di atas tungku tradisional dengan arang dari sabut kelapa di kawasan Kebun Gerand, Kota Bengkulu.

KOTA BENGKULU — Jajanan tradisional Bika Bakar masih mudah ditemukan di pinggir Jalan Soeprapto, tepatnya di kawasan Kebun Gerand, Kecamatan Ratu Samban. Kue berbahan dasar tepung beras, tape singkong, kelapa parut, dan gula pasir ini dimasak dengan cara dibakar di atas arang dan sabut kelapa panas. Cara memasak inilah yang membedakannya dari kue bika versi lain, seperti Bika Ambon atau Bika Padang.

Bukan Bika Ambon, Ini Bedanya

Bika Ambon memiliki tekstur berlubang seperti sarang tawon dengan warna kekuningan atau hijau, serta dimasak dengan cara dikukus. Sementara Bika Padang berwarna putih, bentuknya mirip apem, dan bisa dibakar atau dipanggang. Adonan dasar ketiganya memang serupa, tetapi rasa, bentuk, dan proses pengolahannya berbeda.

Bika Bakar justru tampil polos tanpa lubang besar. Teksturnya padat namun lembut, dengan rasa manis alami dari gula pasir dan gurihnya parutan kelapa. Aroma harum yang muncul berasal dari asap daun waru atau daun pisang yang digunakan saat proses pembakaran.

Proses Bakar dengan Sabut Kelapa yang Bikin Nagih

Ciri khas utama Bika Bakar ada pada penggunaan sabut kelapa sebagai bahan bakar. Sabut yang masih panas memberikan efek pengasapan ringan, sehingga kue matang merata dan menghasilkan aroma smoky yang khas. Tanpa pemanis buatan, kue ini mengandalkan rasa manis dari gula pasir dan tape singkong yang difermentasi.

Proses pembakaran dilakukan di atas tungku tradisional dengan arang dari sabut kelapa. Cara ini sudah diwariskan turun-temurun oleh para penjual di Bengkulu. Tidak heran, setiap gigitan terasa legit sekaligus gurih.

Harga Terjangkau, Cocok untuk Camilan Pagi dan Sore

Satu biji Bika Bakar dibanderol Rp 1.500. Harga yang relatif murah membuat jajanan ini tetap bertahan di tengah maraknya kue modern. Warga setempat biasa menikmatinya saat pagi atau menjelang sore hari, ditemani secangkir teh atau kopi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu, Bika Bakar bisa menjadi oleh-oleh atau camilan ringan. Lokasi penjualan yang strategis di pusat kota memudahkan siapa pun untuk mencicipi kudapan jadul ini. Nama "bika" sendiri diadaptasi dari bahasa Minang, "baka", yang berarti bakar – merujuk langsung pada cara memasaknya.

Bagikan
Sumber: radarutara.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks