BENGKULU — Laba bersih perusahaan di luar pos nonberulang hanya tercatat Rp4,3 triliun, anjlok 48 persen dari semester pertama 2025. Penyebab utamanya adalah terhentinya sementara operasional Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources, meski aktivitasnya sudah pulih pada kuartal kedua tahun ini.
United Tractors juga mencatat pos nonberulang sebesar Rp3,3 triliun, mayoritas berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate. Akibat berbagai beban tersebut, posisi keuangan perseroan berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun menjadi utang bersih Rp9,4 triliun per 30 Juni 2026, dengan rasio gearing 8,5 persen.
Penjualan Komatsu Merosot, Suku Cadang Justru Naik
Segmen alat berat menjadi penekan terbesar kinerja UT. Penjualan Komatsu sepanjang enam bulan pertama hanya mencapai 1.994 unit, turun 27 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kategori mesin besar (big mining) untuk sektor pertambangan paling parah, ambles 55 persen menjadi 325 unit seiring rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional.
Di tengah lesunya penjualan unit baru, lini purna jual justru menunjukkan ketahanan. Pendapatan suku cadang dan jasa pemeliharaan naik tipis menjadi Rp5,5 triliun dari sebelumnya Rp5,4 triliun. Secara keseluruhan, pendapatan segmen alat berat terkoreksi 28 persen menjadi Rp15 triliun.
Kontraktor Tambang Tumbuh, Volume Turun
Berbeda dengan alat berat, bisnis kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada justru mencatat pertumbuhan. Pendapatan segmen ini naik 4 persen menjadi Rp27,2 triliun, ditopang depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Padahal volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 481 juta bank cubic meter (bcm), dan produksi batu bara turun 3 persen menjadi 67 juta ton dengan stripping ratio 7,2 kali.
PAMA Group kini memperluas portofolio ke mineral, terutama emas dan nikel, sebagai strategi diversifikasi jangka panjang. Adapun segmen batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan Turangga Resources mencatat penjualan 6 juta ton, turun 10 persen, dengan pendapatan Rp12,9 triliun.
Penjualan Emas Anjlok 82 Persen
Tekanan terbesar dialami segmen pertambangan emas dan mineral lain. Pendapatan segmen ini merosot 66 persen menjadi Rp2,4 triliun. Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya hanya menjual 23 ribu ons setara emas, jauh di bawah 125 ribu ons pada semester pertama 2025.
Di bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources menjual 886 ribu wet metric ton (wmt) bijih nikel, terdiri dari 260 ribu wmt saprolit dan 626 ribu wmt limonit. UT juga mengakui kontribusi laba dari Nickel Industries Limited (NIC), di mana operasi RKEF-nya mencatat penjualan logam nikel 61.622 ton pada kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026.
Buyback Berlanjut, Manajemen Yakin Prospek Cerah
Di tengah tekanan kinerja, UT tetap agresif membeli kembali sahamnya. Program buyback tahap ketiga rampung pada 30 Juni 2026 dengan total 33,8 juta saham, dan langsung dilanjutkan tahap keempat senilai maksimal Rp2 triliun hingga 30 September 2026. Secara kumulatif sejak 2022, perseroan telah membeli sekitar 237 juta saham senilai Rp7,1 triliun.
Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan. Di saat bersamaan, buyback juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar modal nasional di tengah fluktuasi pasar yang masih tinggi.