BENGKULU — Kue Tat atau Bay Tat bukan sekadar camilan, melainkan warisan kuliner dari istana kerajaan Bengkulu yang kini bertransformasi menjadi oleh-oleh paling dicari wisatawan. Kue bertekstur padat dan lembut dengan perpaduan gurih santan serta manis selai nanas ini menyimpan sejarah panjang sejak zaman Kerajaan Pepinau dan Selebar.
Filosofi Nama Bay Tat: Induk Kue Tart dari Istana
Nama "Bay Tat" berasal dari bahasa Bengkulu, di mana "Bay" berarti induk dan "Tat" merujuk pada kue tart. Dahulu, kue ini hanya disajikan untuk keluarga kerajaan dan tamu istimewa. Kini, kelezatannya telah dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Kue Tat menjadi simbol pariwisata dan kebanggaan warga Bumi Rafflesia.
Rahasia Kelezatan: Santan, Mentega, dan Selai Nanas
Keunikan Kue Tat terletak pada teksturnya yang padat namun lembut. Perpaduan rasa gurih dari santan dan mentega berpadu dengan manis legit selai nanas di atasnya. Proses pembuatan masih banyak yang dilakukan secara tradisional dengan resep turun-temurun. Bahan utama seperti tepung terigu, mentega, telur, gula, dan santan diolah dengan pemanggangan sempurna hingga menghasilkan aroma harum khas kelapa.
Dari Bay Tat hingga Anak Tat: Varian yang Menggoda
Kue berwarna kuning kecoklatan ini hadir dalam dua varian utama. Bay Tat berukuran besar seloyang penuh, sementara Anak Tat atau mini tat berukuran kecil segenggaman tangan. Tak heran jika kue ini kerap dijuluki "pizza-nya Bengkulu" karena bentuknya yang bundar dan topping selai nanas yang merata. Varian kecil sangat praktis untuk dijadikan buah tangan.
Oleh-Oleh Wajib dari Bumi Rafflesia
Kue Tat tidak hanya hadir di momen hari raya atau pesta adat, tetapi juga mudah ditemukan di toko oleh-oleh di berbagai penjuru Bengkulu. Bagi wisatawan yang berkunjung, membawa pulang Kue Tat menjadi cara untuk menikmati sepenggal kisah budaya Bengkulu. Kelezatannya yang legendaris dan sejarahnya yang kaya membuat kue ini lebih dari sekadar camilan.