BENGKULU — Google akhirnya angkat bicara soal strategi terbarunya di ranah wearable. Bukan sekadar proyek riset, perusahaan asal Mountain View itu mengumumkan kemitraan dengan tiga nama besar—Samsung, Warby Parker, dan Gentle Monster—untuk menghadirkan kacamata pintar yang disebut "Intelligent Eyewear". Perangkat ini akan menjadi produk pertama yang menjalankan platform Android XR secara penuh, dengan fokus utama pada integrasi asisten AI Gemini.
Juston Payne, Head of Product Management untuk XR di Google, menegaskan bahwa produk ini bukanlah Google Glass 2.0. "Masalahnya dulu adalah visinya bagus, tapi realitas teknologinya belum siap," ujar Payne dalam wawancara eksklusif. Ia menyebut tiga faktor kegagalan Google Glass: desain yang terlalu kutu buku, minimnya konten, dan ketiadaan kecerdasan buatan yang mumpuni. Kini, kata Payne, semua pilar itu sudah terpenuhi.
Fitur Unggulan: Gemini sebagai Asisten Kontekstual
Intelligent Eyewear generasi pertama hanya akan mengandalkan audio, tanpa layar. Namun, dengan Gemini yang selalu aktif, pengguna bisa bertanya soal jadwal, skor pertandingan, atau rekomendasi podcast secara real-time. "Kami menyebutnya personal intelligence—asisten yang tahu konteks Anda," kata Payne.
Dua skenario penggunaan yang paling ditekankan adalah navigasi dan penerjemahan. Kacamata ini menggunakan kamera untuk melokalisasi posisi pengguna, lalu memberikan petunjuk arah audio yang presisi, bukan sekadar "belok kanan di sana". Fitur penerjemahan dijanjikan bekerja seperti "pengalaman UN translator" instan.
Untuk model dengan layar—yang baru akan hadir dalam program trusted tester tahun ini—Google melihatnya sebagai pelengkap, bukan keharusan. "Kami menganggap layar sebagai augmentasi dari pengalaman audio, bukan dependensi utama," tambah Payne.
Desain Dulu, Baru Fitur: Pelajaran dari Meta dan Snap
Salah satu perbedaan paling mencolok dengan kompetitor adalah pendekatan desain. Google memilih untuk "memimpin dengan desain, baru bertanya fitur apa yang bisa dimasukkan". Gentle Monster menghadirkan desain oval ramping yang nyaris tak terlihat seperti gadget, sementara Warby Parker menawarkan model retro yang sedikit lebih tebal.
Payne secara implisit mengkritik pendekatan Snap dengan Snap Specs yang cenderung bulky. "Jika Anda membuat produk yang memberikan pengalaman baru, orang mungkin mau mentolerir desain yang kompromistis. Itu bagus untuk menguji teori, tapi itu bukan pendekatan Google," tegasnya. Targetnya sederhana: "Buat produk yang begitu berharga sehingga jika orang lupa membawanya, mereka akan kembali lagi untuk mengambilnya."
Privasi: Lampu Indikator yang Akurat dan Anti-Rusak
Isu privasi menjadi momok terbesar di kategori ini. Meta Ray-Ban sempat menuai kontroversi setelah ditemukan kasus perekaman diam-diam di tempat umum, bahkan muncul pasar gelap untuk mematikan lampu indikator LED. Google mengklaim sudah belajar dari insiden tersebut.
"Jika orang tidak merasa nyaman memakai kacamata ini—dan privasi adalah bagian dari itu—mereka tidak akan memakainya. Sesederhana itu," kata Payne. Google berjanji akan memastikan lampu LED menyala akurat setiap kali pengguna merekam konten yang bisa ditinjau kembali. Sistem keamanan juga akan mendeteksi jika ada upaya merusak indikator tersebut. Detail lebih lanjut akan diumumkan akhir tahun ini.
Strategi Platform vs. Produk: Menantang Meta dan Apple
Meta telah menjual lebih dari 9 juta unit Ray-Ban Stories dan generasi keduanya. Namun, Payne percaya pendekatan Google berbeda. "Meta membuat kacamata yang bagus untuk foto, video, dan panggilan. Kami fokus pada momen sepanjang hari dan bagaimana Gemini bisa hadir di dalamnya," ujarnya.
Kunci diferensiasi lainnya adalah ekosistem aplikasi. Android XR dirancang agar aplikasi Android biasa bisa langsung berjalan tanpa modifikasi ulang oleh developer. "Mereka build sekali, dan kami yang mengurus sisanya," klaim Payne. Ini kontras dengan ekosistem Meta yang masih terbatas.
Soal Apple yang diperkirakan merilis kacamata pintar pada 2027, Payne mengakui kompetisi akan ketat. "Apple punya rekam jejak kuat. Tapi Google adalah perusahaan platform dan kemitraan. Kami akan unggul saat bekerja sama dengan banyak mitra," katanya.
Harga, Ketersediaan, dan Masa Depan Smartphone
Harga resmi Intelligent Eyewear belum diumumkan. Sebagai gambaran, Meta Ray-Ban generasi kedua dibanderol mulai USD 299 (sekitar Rp 4,9 juta). Kacamata ini akan kompatibel dengan Android dan iPhone, meski ada beberapa batasan teknis yang belum bisa diakali Google.
Kemitraan juga mencakup Xreal, yang akan merilis kacamata spatial computing bernama Xreal Aura pada musim gugur ini. Berbeda dengan Intelligent Eyewear, Xreal Aura menggunakan kabel yang terhubung ke computing puck dan menawarkan layar imersif dengan field of view 70 derajat diagonal—lebih sempit dari headset Galaxy XR, tapi jauh lebih portabel.
Lantas, akankah kacamata pintar menggantikan smartphone? Payne menjawab tegas: "Ponsel akan tetap ada. Mereka sangat kuat dan memiliki antarmuka yang matang." Menurutnya, manfaat utama kacamata pintar justru membantu kita mengurangi distraksi—mencegah kebiasaan membuka ponsel untuk notifikasi lalu tersesat di aplikasi lain. "Kacamata akan menggeser beberapa menit waktu layar ponsel ke kacamata, sehingga Anda bisa lebih hadir dengan apa yang sedang Anda lakukan," pungkasnya.