BENGKULU — Universitas Bengkulu (Unib) memastikan diri turut serta dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 yang digelar di Jakarta. Forum ini dinilai menjadi jembatan strategis antara dunia kampus dengan agenda prioritas pemerintah pusat.
"Sarasehan Kebangsaan KSTI merupakan momentum penting bagi perguruan tinggi untuk menyelaraskan arah pengembangan pendidikan tinggi dengan prioritas pembangunan nasional yang tengah dijalankan pemerintah," kata Rektor Unib Prof Indra Cahyadinata di Bengkulu, Selasa.
Arahan Langsung dari Presiden dan Para Menteri
Melalui forum tersebut, Unib memperoleh arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri mengenai peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung program pembangunan. Indra menjelaskan bahwa para ilmuwan dan peneliti diharapkan menjadi motor penggerak inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
"Berbagai isu strategis yang dibahas, mulai dari pertanian, energi, ekonomi dan keuangan, ketahanan pangan, kelautan dan perikanan, hingga hilirisasi industri akan menjadi referensi penting bagi perguruan tinggi," ujarnya.
Riset dan Inovasi yang Relevan dengan Kebutuhan Daerah
Indra menekankan bahwa hasil pembahasan dalam sarasehan akan menjadi acuan bagi Unib dalam memperkuat riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya sekadar mengikuti arahan pusat, Unib juga ingin memastikan program-programnya berdampak langsung pada persoalan lokal Bengkulu.
Partisipasi Unib dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 merupakan wujud dukungan universitas terhadap penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Tujuannya, merumuskan arah pembangunan yang berbasis riset dan ilmu pengetahuan.
2.600 Peserta dari Seluruh Indonesia Hadir
Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 dibuka Presiden Prabowo Subianto. Kegiatan diawali dengan laporan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang menyampaikan bahwa forum ini diikuti lebih dari 2.600 peserta.
Rinciannya, 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen, ilmuwan, dan peneliti, termasuk sekitar 300 peneliti dari BRIN, serta lebih dari 635 mitra kolaborasi perguruan tinggi dan Kemendiktisaintek.
Brian mengatakan Sarasehan Kebangsaan menjadi bagian dari rangkaian KSTI 2026 yang bertujuan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Ilmu pengetahuan diharapkan menjadi fondasi utama pembangunan nasional.