BENGKULU — Laporan terbaru Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) memproyeksikan penjualan mobil di Tiongkok bakal merosot 11% pada 2026. Angka ini jauh lebih dalam dari estimasi awal yang hanya memperkirakan penurunan 1%. Tekanan datang dari pengurangan subsidi kendaraan listrik secara bertahap yang melemahkan daya beli, ditambah krisis properti yang berkepanjangan menggerus kepercayaan konsumen.
Kondisi ini memaksa produsen otomotif, termasuk BYD, mencari sumber pertumbuhan baru. “Prospek ini menunjukkan bahwa produsen mobil akan terus lebih bergantung pada pasar internasional untuk mempertahankan pertumbuhan di tahun-tahun mendatang,” demikian bunyi ringkasan laporan CPCA yang dikutip SINDOnews Otomotif.
Penjualan Domestik Tertekan, Ekspor Jadi Andalan
Persediaan unit menumpuk di dealer-dealer Tiongkok, ikut menekan angka penjualan. Di titik ini, BYD tak punya banyak pilihan selain menggenjot volume ekspor. Strategi agresif penetrasi pasar global sudah mulai terlihat, dari Eropa hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ancaman Nyata bagi Hegemoni Jepang
Langkah BYD menjadi ancaman serius bagi pabrikan Jepang seperti Toyota, Honda, dan Nissan yang selama ini mendominasi pasar global. Dengan skala produksi masif dan rantai pasok baterai yang terintegrasi, BYD mampu menawarkan harga lebih kompetitif. Jika pasar Tiongkok terus melemah, tekanan BYD untuk ‘membuang’ stok ke luar negeri bakal semakin besar, mengancam pangsa pasar merek-merek Jepang di berbagai negara.
Bagi konsumen Indonesia, agresivitas BYD justru bisa menjadi angin segar. Persaingan harga antar merek diprediksi kian ketat, membuka peluang mendapatkan mobil listrik dengan harga lebih terjangkau dalam waktu dekat.