Pencarian

NTP Hortikultura Bengkulu Melonjak 13,86 Persen Imbas Harga Sayur Naik, Petani Perkebunan Justru Tertekan

Sabtu, 04 Juli 2026 • 21:31:01 WIB
NTP Hortikultura Bengkulu Melonjak 13,86 Persen Imbas Harga Sayur Naik, Petani Perkebunan Justru Tertekan
Nilai Tukar Petani Hortikultura Bengkulu naik 13,86 persen pada Juni 2026.

BENGKULU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat disparitas kesejahteraan yang tajam antar subsektor pertanian pada Juni 2026. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) melesat tinggi, sementara Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) justru terperosok.

Data yang dirilis BPS pada 1 Juli 2026 menunjukkan NTPH naik 13,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi di antara subsektor lainnya. Sebaliknya, NTPR merosot 3,58 persen, menandakan daya beli petani kopi, sawit, atau karet sedang tertekan.

Sayur-Sayuran Jadi Motor Utama Kenaikan

Kenaikan NTPH tidak lepas dari melonjaknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 14,30 persen. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik tipis 0,39 persen, membuat selisih pendapatan petani hortikultura semakin lebar.

Komoditas sayur-sayuran menjadi penyumbang utama dengan kenaikan harga mencapai 14,51 persen. Kelompok buah-buahan juga ikut mendongkrak, naik 2,08 persen, disusul tanaman obat yang tumbuh 0,46 persen.

Kondisi ini kontras dengan subsektor perkebunan. Meski BPS belum merinci komoditas perkebunan mana yang paling anjlok, penurunan NTPR sebesar 3,58 persen mengindikasikan harga komoditas utama seperti kopi atau karet sedang lesu di tingkat petani.

Petani Pangan Masih Stabil, Hortikultura Paling Moncer

Di tengah ketimpangan tersebut, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) masih mampu tumbuh tipis 0,34 persen. Angka ini menunjukkan stabilitas harga beras dan palawija, meski tidak sekencang sektor hortikultura.

Belum meratanya kenaikan nilai tukar antar subsektor ini menjadi catatan bagi pemerintah daerah. Jika harga sayur terus melambung, petani hortikultura diuntungkan. Namun, jika tidak diimbangi kebijakan stabilisasi harga, petani perkebunan rakyat justru bisa semakin terpuruk.

Data BPS ini menjadi sinyal awal bahwa pemulihan sektor pertanian di Bengkulu masih timpang. Fokus pada satu subsektor saja tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara keseluruhan.

Bagikan
Sumber: rakyatbengkulu.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks