BENGKULU — Suara pukulan dol yang menggema, deretan telong-telong warna-warni, dan panggung hiburan yang dipenuhi tarian daerah menjadi pemandangan biasa saat Festival Tabot berlangsung. Tahun 2025 lalu, keramaian itu kembali terulang. Warga berfoto, pedagang kuliner ramai, dan konten media sosial membanjiri linimasa.
Namun di tengah kemeriahan itu, pertanyaan soal makna tradisi mulai mengemuka. Tabot, yang lahir dari tradisi penghormatan terhadap peristiwa penting dalam sejarah Islam, kini lebih sering identik dengan hiburan dan perputaran ekonomi.
Dari Ritual Sakral ke Agenda Wisata Nasional
Dinas Pariwisata Kota Bengkulu telah menetapkan Festival Tabot sebagai agenda wisata unggulan. Acara ini konsisten masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata setiap tahunnya. Pemerintah daerah menjadikannya daya tarik utama untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM setempat.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Bengkulu masih belum dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia. Budaya dan pariwisata memang sulit dipisahkan di era sekarang. Pedagang kecil memperoleh peluang usaha, sektor jasa ikut bergerak, dan citra daerah naik kelas.
Anak Muda Lebih Kenal Hiburan daripada Sejarah
Persoalan muncul ketika masyarakat lebih mengenal Tabot dari sisi keramaiannya. Kalangan muda, misalnya, lebih sering mengenal tradisi ini melalui konser musik atau konten media sosial. Pemahaman terhadap sejarah, ritual, dan peran keluarga Tabot dalam menjaga tradisi justru terpinggirkan.
"Banyak orang datang untuk menikmati hiburan, berburu kuliner, atau membuat konten media sosial. Tentu, itu bukan hal yang salah. Akan tetapi, berapa banyak yang benar-benar mengetahui bahwa Tabot lahir dari tradisi penghormatan terhadap sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam?" tulis pengamat budaya dalam artikel yang dimuat Jurnalis Bengkulu.
Ketika budaya terlalu diukur dari jumlah pengunjung dan kemeriahan acara, tradisi perlahan berubah menjadi sekadar tontonan. Makna budaya berisiko kalah oleh target keramaian dan kepentingan industri festival.
Warisan Budaya Nasional yang Perlu Dijaga
Tabot telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan itu seharusnya menjadi pengingat bahwa Tabot lebih dari sekadar agenda wisata tahunan. Ia merupakan bagian penting dari jati diri budaya Bengkulu.
UNESCO dalam berbagai kajiannya menekankan bahwa pariwisata budaya perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap nilai autentik tradisi serta keterlibatan komunitas budaya. Ketika budaya terlalu diarahkan menjadi produk wisata, ada risiko bahwa nilai asli tradisi perlahan tergerus oleh kepentingan industri hiburan.
Kekhawatiran itulah yang perlu diantisipasi dalam perkembangan Tabot setiap tahunnya. Keseimbangan antara kepentingan wisata dan pelestarian makna budaya menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.