Uber Bangun Kerajaan Robotaxi Lewat 30+ Kemitraan, dari Aurora sampai Avride

Penulis: Ricki Manurung  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:14:01 WIB
Uber memperluas kemitraan kendaraan otonom dengan lebih dari 30 perusahaan di berbagai negara.

BENGKULU — Uber perlahan membangun kembali posisinya di industri kendaraan otonom (AV) melalui strategi kemitraan yang agresif. Setelah menjual unit riset Uber ATG ke Aurora pada 2020, perusahaan ride-hailing ini justru memperluas jaringan AV-nya lewat kolaborasi dengan puluhan perusahaan di berbagai negara.

Dari Pengembangan Sendiri ke Jaringan Kemitraan

Perjalanan Uber di dunia AV tidak selalu mulus. Pada 2014, perusahaan yang saat itu dipimpin Travis Kalanick membentuk Uber Advanced Technologies Group (ATG) dengan merekrut puluhan peneliti dari program robotika Carnegie Mellon University. Dua tahun kemudian, Uber mengakuisisi Otto, perusahaan truk otonom yang didirikan oleh mantan insinyur Google, Anthony Levandowski.

Namun, ambisi itu runtuh setelah tiga peristiwa besar: gugatan rahasia dagang dari Waymo, pengunduran diri Kalanick pada 2017, dan kecelakaan fatal di Tempe, Arizona, pada 2018 yang melibatkan Volvo XC90 otonom milik Uber. Insiden itu menewaskan seorang pejalan kaki dan memaksa Uber menghentikan pengujian publik.

Di bawah kepemimpinan Dara Khosrowshahi, Uber melakukan reset besar-besaran pada 2020. Semua proyek ambisius—termasuk AV, Jump (skuter listrik), dan Elevate (taksi terbang)—dilepas ke Aurora, Lime, dan Joby Aviation. Uber tetap memegang saham di ketiga perusahaan tersebut.

Kembalinya Uber Lewat Aurora dan Uber Freight

Uber tidak benar-benar pergi dari bisnis AV. Salah satu keterlibatan terbesarnya adalah melalui Aurora, perusahaan yang membeli Uber ATG pada 2020. Berdasarkan dokumen SEC per April lalu, Uber melalui perusahaan holding Neben Holdings memiliki 325,97 juta saham Kelas A Aurora—sekitar 19,7% ekuitas dan 6,9% hak suara.

Kemitraan ini berlanjut ke lini logistik. Uber Freight, divisi logistik yang dipisahkan dari Uber pada 2018, mengumumkan kolaborasi multi-tahun dengan Aurora pada Juni 2024. Hingga Mei 2025, truk otonom Aurora telah menyelesaikan perjalanan pulang-pergi antara Dallas dan Houston melalui platform Uber Freight.

Ekspansi Global: Munich, Madrid, dan Dallas

Uber juga melebarkan sayap ke Eropa. Pada Juni 2026, perusahaan mengumumkan rencana meluncurkan program robotaxi di Munich, Jerman, menunggu persetujuan regulasi. Kemitraan ini melibatkan Autobrains, perusahaan asal Israel yang mengembangkan sistem AI mengemudi berbasis agen yang berjalan di platform Nvidia Drive Hyperion. Model yang ditawarkan disebut OEM-agnostic, artinya tidak terikat pada satu merek kendaraan tertentu.

Di Madrid, Uber menjalin kerja sama dengan WeRide untuk layanan robotaxi yang diumumkan Juni 2026. Operasional armada di kota tersebut ditangani oleh Avomo, perusahaan Eropa yang sebelumnya dikenal sebagai Moove Cars. Uber memegang 30% saham Avomo sejak 2021.

Avomo juga bertanggung jawab atas layanan manajemen armada untuk kemitraan Waymo-Uber di Austin, termasuk pembersihan kendaraan, perawatan, inspeksi, pengisian daya, dan operasional depot. Perlu dicatat, Avomo berbeda dengan Moove, perusahaan asal Afrika yang mengelola armada AV Waymo di Phoenix.

Avride: Robot Pengantar dan Robotaxi di Texas

Salah satu kemitraan paling aktif adalah dengan Avride, perusahaan hasil spin-off Yandex yang kini berada di bawah naungan Nebius Group. Pada Oktober 2024, keduanya mengumumkan kerja sama multi-tahun untuk menghadirkan robot pengantar barang di trotoar dan kendaraan otonom ke Uber Eats serta aplikasi ride-hailing Uber.

Pada kuartal keempat 2024, Uber mengonfirmasi bahwa pesanan Uber Eats di Austin dan Dallas sudah diantar menggunakan robot trotoar Avride. Perusahaan ini juga mengumumkan investasi strategis dan komitmen komersial senilai USD 375 juta (sekitar Rp 6,2 triliun) dari Uber dan Nebius pada musim gugur 2025, meski rincian nilai investasi tidak dipublikasikan.

Robotaxi Avride yang berbasis Hyundai IONIQ 5 sudah tersedia di aplikasi Uber di Dallas sejak akhir 2025. Namun, NHTSA membuka investigasi terhadap Avride pada Mei 2026 setelah mengidentifikasi lebih dari belasan kecelakaan dan satu cedera ringan. Hingga Juni 2026, layanan ini masih menggunakan pengemudi keselamatan manusia di belakang kemudi, belum sepenuhnya tanpa pengemudi.

Baidu dan Langkah Berikutnya

Uber juga mengumumkan kemitraan strategis multi-tahun dengan Baidu, perusahaan teknologi asal China yang mengembangkan platform AV Apollo. Detail kerja sama ini belum diumumkan secara lengkap, tetapi menandakan Uber serius menjangkau pasar Asia melalui mitra lokal.

Strategi Uber kini jelas: tidak membangun teknologi dari nol, melainkan menjadi platform distribusi bagi perusahaan AV yang sudah memiliki teknologi matang. Pendekatan ini memungkinkan Uber tetap relevan di era transportasi otonom tanpa harus menanggung beban riset dan pengembangan yang mahal.

Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini masih jauh dari pasar lokal. Namun, arah kebijakan Uber ini bisa menjadi indikator bagaimana layanan ride-hailing akan bertransformasi dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan—termasuk kemungkinan hadirnya robotaxi di kota-kota besar Asia Tenggara melalui kemitraan serupa.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top