JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat pagi ini menguat tipis di tengah fluktuasi mata uang global. Berdasarkan data yang dihimpun, rupiah diperdagangkan pada level Rp18.074 per dolar AS, membaik dari posisi penutupan Kamis sore yang tercatat di Rp18.111.
Penguatan sebesar 37 poin atau 0,20 persen ini terjadi meski sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Pelaku pasar tampak mulai mengambil posisi wait and see menjelang akhir pekan.
Level Rp18.074 per dolar AS menjadi titik terkuat yang dicapai rupiah dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat tertekan dan bertahan di kisaran Rp18.100-an pada awal pekan.
Penguatan ini memberikan sedikit ruang napas bagi pasar domestik yang dalam beberapa bulan terakhir terus berhadapan dengan tekanan dolar AS yang perkasa. Data perdagangan menunjukkan permintaan dolar mulai sedikit mereda di pasar domestik.
Meski data makro ekonomi AS masih menjadi penentu utama arah pergerakan dolar, penguatan rupiah pagi ini tidak terlepas dari sentimen internal. Aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia turut menopang permintaan terhadap rupiah.
Di sisi lain, intervensi Bank Indonesia di pasar valas melalui instrumen Secondary Market Operation (SMO) dinilai masih efektif menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini menjadi bantalan utama saat tekanan eksternal meningkat.
Pelaku pasar masih akan mencermati data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan. Data tersebut menjadi kunci bagi bank sentral AS untuk menentukan arah suku bunga acuannya.
Jika inflasi AS menunjukkan penurunan, ekspektasi pemangkasan suku bunga akan kembali menguat. Kondisi ini berpotensi mendorong dolar AS melemah lebih lanjut dan memberi ruang bagi rupiah untuk terus menguat pada pekan-pekan mendatang.
Para analis menilai pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS dalam waktu dekat. Stabilitas ini dijaga oleh fundamental ekonomi domestik yang solid serta cadangan devisa yang memadai.