BENGKULU — Riset bertajuk Making Self-care Work: Integrating Self-care into Health Systems yang didukung Bayer itu menekankan bahwa self-care bukanlah pengganti layanan kesehatan formal, melainkan pelengkap yang membutuhkan dukungan sistem. Tanpa informasi tepercaya, akses terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas, manfaat optimal dari perawatan mandiri sulit terwujud.
Mengacu pada definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), self-care mencakup kemampuan individu, keluarga, dan komunitas dalam mengelola kesehatan mereka. Praktiknya meliputi perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pemanfaatan perangkat digital, pemantauan kesehatan mandiri, hingga penggunaan obat bebas (over-the-counter).
Dr Manjulaa Narasimhan, Scientist WHO dari Departemen Kesehatan Seksual, Reproduksi, Ibu, Bayi, Remaja, dan Lansia, menyebut self-care sebagai garda terdepan semua perawatan kesehatan. “Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang,” ujarnya dalam riset tersebut.
Riset Economist Enterprise mengidentifikasi tiga prioritas utama. Pertama, mewujudkan komitmen kebijakan menjadi implementasi nyata melalui tata kelola yang jelas dan koordinasi antarpemangku kepentingan. Kedua, memperluas akses terhadap produk, layanan, dan informasi kesehatan yang tepercaya dengan pembiayaan yang memadai. Ketiga, memperkuat sistem pengukuran, keselamatan pasien, dan akuntabilitas agar praktik berjalan aman dan berbasis bukti.
Julio Triana, Anggota Dewan Manajemen Bayer sekaligus Presiden Consumer Health, menegaskan bahwa solusi self-care—termasuk perangkat digital, obat bebas yang aman, suplemen nutrisi, dan informasi edukatif—merupakan lini pertahanan pertama bagi masyarakat. “Self-care yang kredibel dapat membantu memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan, tetapi ini harus didukung oleh informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju perawatan profesional,” katanya.
Sejumlah negara telah mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatan mereka. Jerman menerapkan konsep green prescriptions yang memungkinkan dokter meresepkan obat bebas sebagai bagian dari terapi mandiri. Sementara di Indonesia, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) mendorong gaya hidup sehat, sanitasi, dan penggunaan obat secara bertanggung jawab.
Greg Perry, Direktur Jenderal Global Self-Care Federation, menekankan bahwa self-care tidak dimaksudkan mengalihkan tanggung jawab sistem kesehatan. Sebaliknya, produk dan layanan berbasis bukti justru memberikan keleluasaan kapasitas (headroom) bagi jalur rujukan. “Sehingga pasien bisa mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat mereka benar-benar membutuhkannya,” ujarnya.
Meski menjanjikan, ruang lingkup self-care yang luas menghadirkan tantangan dalam tata kelola, standar pengukuran, dan konsistensi implementasi di berbagai sistem kesehatan. Riset menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, serta sistem pendukung akan menjadikan self-care sebagai pendekatan yang efektif dan hemat biaya. Sistem kesehatan yang lebih preventif, proaktif, dan berkelanjutan dinilai mungkin terwujud jika ketiga prioritas tersebut dijalankan secara konsisten.