MANNA — Penandatanganan kerja sama dilakukan setelah Bupati Rifai Tajuddin meninjau langsung lokasi TPA Kayu Arau pada Sabtu (11/7/2026). Sehari sebelumnya, Jumat malam (10/7/2026), Pemkab Bengkulu Selatan dan tim Swiss Green Projects yang berbasis di Jenewa, Swiss, telah menggelar pertemuan virtual melalui Zoom untuk membahas teknis awal kerja sama.
Rifai menjelaskan bahwa teknologi yang akan diterapkan nantinya mampu memilah dan mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai jual. Jenis produk yang dihasilkan, kata dia, akan sangat bergantung pada karakteristik sampah yang ada di TPA Kayu Arau.
"Nanti apa yang jadi, tergantung dari bahan, sebab nanti dipisah. Nanti ada yang jadi pupuk, ada yang jadi produk lainnya, karena nanti ada semacam teknologinya," ujar Rifai usai peninjauan.
Sebelum kerja sama resmi diteken, tim dari Swiss Green Projects telah melakukan pengambilan sampel sampah di TPA Kayu Arau untuk dianalisis. Hasil analisis itu akan menentukan jenis teknologi yang paling tepat diterapkan di Bengkulu Selatan.
Rifai menambahkan, komunikasi yang terjalin baik antara Pemkab dan pihak Swiss Green Projects menjadi faktor utama terealisasinya kerja sama ini. Ia berharap proses selanjutnya berjalan lancar dan membawa dampak positif bagi penanganan sampah di wilayahnya.
"Melalui komunikasi melalui zoom, dan dilanjutkan pengambilan sampel di lapangan bersama Swiss Green. Mudah-mudahan kita memenuhi untuk pengelolaan sampah secara teknologi, detailnya nanti akan bermanfaat bagi masyarakat dan daerah," pungkasnya.
Dengan adanya kerja sama ini, Pemkab Bengkulu Selatan menargetkan volume sampah yang menumpuk di TPA Kayu Arau bisa berkurang signifikan. Selain itu, pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomis diharapkan mampu membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi warga sekitar.
Langkah ini sekaligus menjadi pilot project bagi daerah lain di Indonesia yang ingin mengadopsi pengelolaan sampah berbasis teknologi serupa.