BENGKULU — Fidji Simo, yang menjabat sebagai CEO of Applications di OpenAI sejak Mei 2025, resmi mundur dari peran penuh waktunya. Dalam memo internal kepada staf pada Kamis (waktu setempat), Simo mengaku bahwa cuti medis yang dijalaninya ternyata lebih panjang dan berat dari perkiraan. Ia akan bertransisi menjadi penasihat paruh waktu.
Simo pertama kali mengumumkan masalah kesehatannya pada April 2025. Ia mengambil cuti medis karena kambuhnya kondisi neuroimun yang dideritanya. Cuti yang awalnya bersifat sementara itu akhirnya berujung pada keputusan permanen untuk mundur dari jajaran direksi.
Dalam unggahan di X (dulu Twitter), Simo mengonfirmasi kabar tersebut. CEO OpenAI Sam Altman merespons dengan nada prihatin: "Saya sangat sedih dengan ini dan sangat berterima kasih atas semua yang telah dilakukan Fidji untuk OpenAI, dan bahkan lebih bersyukur atas persahabatannya dan dirinya sebagai pribadi. Kami semua mendoakan yang terbaik untuk pemulihannya. Ini menyebalkan."
Kepergian Simo menciptakan kekosongan di posisi puncak yang krusial. Sejak bergabung dari Instacart—di mana ia memimpin IPO perusahaan tersebut pada 2023—Simo langsung mengonsolidasi operasi bisnis dan produk OpenAI. COO Brad Lightcap, CFO Sarah Friar, dan CPO Kevin Weil semuanya melapor langsung kepadanya.
Dengan hengkangnya Simo, Altman kini harus mencari pengganti. Weil sendiri telah meninggalkan perusahaan lebih dulu. Satu nama yang disebut berpotensi mengisi peran lebih besar adalah Denise Dresser, mantan CEO Slack yang bergabung sebagai chief revenue officer pada Desember lalu.
Kepergian Simo terjadi di saat sensitif. OpenAI dikabarkan tengah menjajaki kemungkinan IPO. Simo sebelumnya dianggap sebagai kandidat kuat untuk memegang tanggung jawab lebih besar setelah perusahaan go public.
Di sisi bisnis, Simo fokus mengembangkan lini konsumen ChatGPT. Namun, pertumbuhan ChatGPT melambat pada akhir 2025, bahkan sempat meleset dari target pendapatan internal. Akibatnya, OpenAI kini lebih agresif menggarap alat coding—sebuah ranah di mana mereka masih tertinggal dari Anthropic.
Pada hari yang sama dengan pengumuman mundurnya Simo, OpenAI justru meluncurkan keluarga model GPT-5.6—Sol, Terra, dan Luna—serta agen ChatGPT Work untuk tugas kantor multi-langkah. Kedua rilis itu secara eksplisit disebut sebagai respons terhadap Anthropic.
Di balik layar, OpenAI juga mengubah pendekatan terhadap kompensasi saham karyawan. Pada April 2025, perusahaan mempersingkat masa tunggu vesting (vesting cliff) dari 12 bulan standar industri menjadi enam bulan. Kemudian pada Desember, cliff tersebut dihapus total, sehingga ekuitas mulai vesting sejak hari pertama kerja.
Langkah ini, yang digambarkan Simo sebagai cara agar karyawan bisa "mengambil risiko" tanpa takut kehilangan ekuitas jika dipecat lebih awal, mencerminkan perang sengit merebut talenta AI. OpenAI diperkirakan menghabiskan USD 6 miliar (sekitar Rp 99 triliun) untuk kompensasi berbasis saham pada 2025 saja.
Meski demikian, tak satu pun dari eksekutif yang hengkang disebut terkait dengan masalah kompensasi. Paket ekuitas eksekutif biasanya dinegosiasikan secara individual dengan persyaratan vesting yang berbeda.