BENGKULU — Revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai memasuki babak krusial. DPRD Provinsi Bengkulu bersama Pelindo mengawal proses pengerukan alur pelayaran yang saat ini baru mencapai kedalaman 6,5 meter. Target akhirnya, alur tersebut harus mencapai 12 meter agar memenuhi standar pelayaran internasional.
Wakil Ketua DPRD Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menegaskan bahwa kedalaman 12 meter menjadi syarat mutlak agar kapal-kapal besar bisa merapat langsung ke pelabuhan. “Dengan begitu, komoditas unggulan Bengkulu seperti batu bara, kopi, karet, kelapa sawit, dan hasil perikanan bisa diekspor langsung tanpa harus melalui pelabuhan di provinsi lain,” ujarnya dalam kunjungan kerja bersama jajaran Pelindo.
Proses pengerukan disebut sudah memasuki tahap persiapan. Kepala Pelindo Bengkulu, Dimas, menyatakan desain proyek telah rampung dan pekerjaan fisik ditargetkan dimulai pada September atau Oktober 2026. “Seluruh tahapan, mulai dari evaluasi hingga pengadaan, dilakukan sesuai ketentuan pemerintah pusat,” jelas Dimas.
Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pelindo telah sepakat menjadikan Pelabuhan Pulau Baai sebagai pintu utama ekspor daerah setelah kedalaman alur melampaui 11 meter. Saat ini, sejumlah perusahaan sudah mulai mengalihkan pengiriman crude palm oil (CPO) melalui pelabuhan tersebut, yang dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi dan pendapatan daerah.
DPRD juga menyoroti kondisi jalan menuju pelabuhan yang rusak akibat tingginya aktivitas kendaraan bertonase besar. Pelindo disebut telah menyiapkan program perbaikan jalan dengan pekerjaan fisik yang dijadwalkan mulai September 2026. Selain itu, DPRD mendorong pembangunan jalur alternatif bagi masyarakat, termasuk rencana pembangunan jembatan pada jalur evakuasi agar warga tidak lagi bergantung pada akses utama yang kerap diterapkan sistem buka-tutup.