BENGKULU — Produsen kendaraan listrik asal China itu memperkirakan pendapatan kuartal kedua 2026 akan berada di bawah ekspektasi analis. Kondisi ini memperkuat sinyal perlambatan permintaan sekaligus ketatnya persaingan di pasar mobil listrik China.
Xpeng memperkirakan total pendapatan kuartal kedua berada di kisaran 19,60 miliar yuan hingga 20,80 miliar yuan (sekitar US$2,89 miliar), atau tumbuh 7,3 persen hingga 13,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Proyeksi ini berada di bawah rata-rata estimasi analis sebesar 21,71 miliar yuan, berdasarkan data yang dihimpun LSEG.
Untuk kuartal yang berakhir Juni, Xpeng memperkirakan pengiriman kendaraan berada di kisaran 100.000 hingga 106.000 unit. Angka ini masih jauh dari capaian kuartal pertama tahun lalu yang mencapai 94.008 unit.
Total pengiriman kendaraan pada kuartal pertama mencapai 62.682 unit, turun 33,3 persen dibandingkan 94.008 unit pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan kuartal pertama yang berakhir pada Maret mencapai 13,03 miliar yuan, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis sebesar 12,93 miliar yuan.
Penjualan mobil domestik di China tercatat turun selama tujuh bulan berturut-turut hingga April. Estimasi industri juga menunjukkan penjualan kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV) akan melambat pada 2026.
Meski pasar sedang lesu, produsen EV China masih bertaruh pada teknologi bantuan mengemudi canggih (advanced driver-assistance systems/ADAS), kendaraan fitur melimpah, serta perluasan lini produk. Xpeng pun mengumumkan akan menghadirkan empat model baru tahun ini.
"Kami memulai momentum ini dengan peluncuran sukses model GX. Tahun ini Xpeng akan menghadirkan empat model baru, yang akan mendukung pertumbuhan penjualan yang kuat," kata CEO Xpeng, He Xiaopeng melansir Reuters, Selasa (2/6).
Saham Xpeng yang diperdagangkan di Amerika Serikat menyusut hampir 19 persen sepanjang tahun ini. Namun, saham tersebut naik tipis pada awal perdagangan setelah pengumuman kinerja perusahaan.