BENGKULU — Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengungkapkan, hampir seluruh anggaran capex—tepatnya 99 persen—dialokasikan untuk pengembangan segmen inti B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya, satu persen, dipakai untuk pengembangan platform digital secara lebih terukur. Hal ini disampaikan Dian dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (30/5/2026).
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup,” ujar Dian.
Belanja modal masif ini merupakan bagian dari eksekusi strategi transformasi TLKM 30. Menurut Dian, perusahaan tetap berpegang pada prinsip disiplin operasi agar bisnis berkelanjutan, layanan makin inklusif, dan ekosistem digital yang dibangun mampu berdampak luas.
Pencapaian positif di segmen B2C dan B2B Infrastructure pada kuartal I-2026 disebut tidak lepas dari percepatan strategi ini. Infrastruktur yang dibiayai dari capex menjadi tulang punggung pertumbuhan tersebut.
Di sisi lain, Telkom terus menekan biaya operasional lewat penataan portofolio bisnis berbasis model HoldCo-OpCo. Langkah ini mencakup divestasi, merger, hingga likuidasi entitas yang dianggap non-inti.
Salah satu yang paling konkret adalah divestasi AdMedika Group. Perusahaan menargetkan proses pelepasan saham ke investor strategis itu rampung pada akhir semester pertama 2026. Harapannya, AdMedika bisa tumbuh lebih inovatif dan memberikan layanan lebih baik bagi masyarakat Indonesia dan kawasan regional.
Di sisi lain, Telkom juga bersiap memisahkan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap kedua ke InfraNexia. Proyek ini ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini. Manajemen masih mengevaluasi prioritas inisiatif agar implementasinya optimal.
Pemisahan aset fiber ini bukan sekadar penataan. Telkom melihat InfraNexia sebagai calon mesin pertumbuhan baru di segmen B2B. Dengan pengelolaan aset yang lebih tangkas dan efisien, perusahaan optimistis bisa membuka peluang pendapatan eksternal yang lebih besar.
Saat ini, kontribusi bisnis fiber masih di kisaran 15 persen. Targetnya, angka itu naik menjadi sekitar 25 persen seiring optimalisasi utilisasi infrastruktur, tuntasnya transfer aset, dan operasional yang berjalan penuh.
Tak hanya fiber, Telkom juga memperkuat bisnis B2B ICT dan International. Langkah ini untuk menangkap kebutuhan industri yang terus berubah, terutama di tengah pesatnya adopsi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Ke depan, perusahaan berharap komposisi pendapatan antara segmen B2C dan B2B bisa lebih seimbang.