BENGKULU — Kenaikan harga mi instan di Bengkulu memicu keluhan di kalangan mahasiswi perantau. Bagi mereka yang tinggal di kos-kosan, mi instan adalah menu andalan paling terjangkau yang menopang kebutuhan pangan sehari-hari.
Seorang mahasiswi mengaku harga mi instan naik hingga Rp 1.000 per bungkus. Kenaikan ini cukup memberatkan karena mi instan telah menjadi makanan pokok selama tinggal di kos.
Kenaikan harga mi instan di Bengkulu mencapai Rp 1.000 per bungkus. Harga sebelumnya yang berkisar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 kini naik menjadi Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per bungkus di sejumlah warung dan toko kelontong.
Praktis dan murah menjadi alasan utama mi instan menjadi pilihan utama. “Mi instan jadi penopang hidup di kos,” kata seorang mahasiswi kepada Tribunbengkulu.com. Ia menyebut kenaikan harga ini langsung terasa di kantong.
Keterbatasan dana bulanan dari orang tua memaksa mahasiswi mengatur uang secara ketat. Mi instan yang cepat dimasak dan tak perlu banyak bumbu tambahan menjadi solusi saat uang menipis.
Kenaikan harga mi instan memaksa mahasiswi mengurangi frekuensi konsumsi atau mencari alternatif lain. Beberapa mulai beralih ke mi instan rebus buatan sendiri atau membeli nasi bungkus yang harganya juga ikut naik.
“Kalau dulu bisa beli tiga bungkus sekaligus, sekarang cuma dua,” ujar mahasiswi lainnya. Ia berharap harga mi instan kembali normal agar pengeluaran bulanan tidak membengkak.
Belum ada data resmi dari pemerintah daerah mengenai kenaikan harga mi instan di seluruh Bengkulu. Namun, keluhan mahasiswi ini menunjukkan kenaikan harga sudah terasa di beberapa titik penjualan di Kota Bengkulu.
Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat belum memberikan pernyataan resmi. Mahasiswi berharap ada kebijakan yang bisa menstabilkan harga bahan pokok ini.
Harga mi instan di Bengkulu naik sekitar Rp 1.000 per bungkus. Harga sebelumnya Rp 2.500 hingga Rp 3.000 menjadi Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per bungkus.
Kenaikan harga mi instan dilaporkan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Namun, keluhan mahasiswi di Bengkulu menyoroti dampak langsung pada kehidupan sehari-hari mereka.
Mahasiswi mengurangi frekuensi konsumsi mi instan atau mencari alternatif lain. Beberapa mulai membeli nasi bungkus atau memasak mi instan sendiri dengan porsi lebih hemat.