MANNA — Pemkab Bengkulu Selatan menggandeng perusahaan teknologi lingkungan asal Swiss, Swiss Green Projects, untuk mengelola sampah di TPA Kayu Arau. Kerja sama ini menjadi yang pertama di Indonesia dan ditargetkan mampu mengubah tumpukan sampah menjadi produk bernilai ekonomi seperti gas, minyak nafta, dan listrik.
Sebelum penandatanganan nota kesepahaman, Pemkab Bengkulu Selatan dan tim Swiss Green Projects telah menjalin komunikasi intensif. Bupati Bengkulu Selatan H. Rifai Tajuddin mengungkapkan bahwa pertemuan virtual dengan tim di Jenewa digelar pada Jumat malam, 10 Juli 2026, di Pendopo Rumah Dinas Bupati.
“Melalui komunikasi melalui zoom, dan dilanjutkan pengambilan sempel di lapangan bersama Swiss Green. Mudah-mudahan kita memenuhi untuk pengelolaan sampah secara teknologi, detailnya nanti akan bermanfaat bagi masyarakat dan daerah,” ujar Rifai.
Perwakilan Swiss Green Projects, Neli, memaparkan bahwa teknologi yang akan diterapkan mampu menghasilkan tiga produk utama: gas, minyak nafta, dan listrik. Jenis produk yang dihasilkan sangat tergantung pada komposisi sampah yang dominan di TPA Kayu Arau.
“Itu tergantung dari sampahnya, kalau kebanyakan residu mungkin lebih ke gas yah,” ungkap Neli.
Hasil survei awal menunjukkan tumpukan sampah di TPA Kayu Arau didominasi bahan organik dengan jumlah plastik yang relatif sedikit. Bupati Rifai menambahkan, proses pemilahan akan menentukan apakah sampah diolah menjadi pupuk atau produk lainnya.
“Nanti apa yang jadi, tergantung dari bahan, sebab nanti dipisah. Nanti ada yang jadi pupuk, ada yang jadi produk lainnya, karena nanti ada semacam teknologinya,” terangnya.
Meski lahan TPA dinilai memadai, volume sampah harian menjadi tantangan utama. Pabrik pengolahan membutuhkan pasokan 350 hingga 400 ton sampah per hari agar operasional tidak terhenti.
“Kalau lahan mungkin luas yah, cuman sampahnya saja mungkin kita harus usahalah. Dalam satu bulan itu kapasitas pabrik tidak boleh berhenti,” jelas Neli.
Kepala DLHK Bengkulu Selatan Erwin Muchsin optimistis target volume bisa tercapai. Saat ini DLHK baru melayani pengangkutan sampah di tiga dari 11 kecamatan. Selain itu, limbah dari beberapa pabrik kelapa sawit berpotensi menjadi sumber bahan baku tambahan.
“Untuk permintaan sampah setiap harinya 350 ton, kita saat ini baru menangani 3 kecamatan dari 11 kecamatan. Barang kali kalau sudah kita angkut semua di kecamatan dan desa itu sudah mencukupi dan juga ada beberapa pabrik sawit yang setiap harinya juga menghasilkan ratusan ton sampah,” terang Erwin.
Perwakilan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Lasmi yang merupakan putri daerah Bengkulu Selatan menegaskan komitmennya mengawal kerja sama ini hingga terealisasi. Ia menyebut Swiss Green Projects telah bekerja sama dengan lima negara, dan Indonesia perdana di Bengkulu Selatan.
“Swiss Green Project ini sudah melakukan kerjasama dengan 5 negara, dan di Indonesia perdana dan ada di Bengkulu Selatan,” pungkas Lasmi.
Dengan kerja sama ini, Pemkab Bengkulu Selatan berharap pengelolaan sampah tidak lagi menjadi beban daerah, melainkan bertransformasi menjadi sumber energi dan ekonomi baru bagi masyarakat.