REJANG LEBONG — Sejumlah program strategis dari pemerintah pusat telah digulirkan untuk mendongkrak produktivitas pangan di Bengkulu. Mulai dari perluasan areal tanam, cetak sawah rakyat (CSR), optimalisasi lahan (oplah), perbaikan jaringan irigasi tersier, hingga bantuan sarana dan prasarana produksi.
Rosmala mengungkapkan bantuan benih dari pusat sudah mulai disalurkan secara bertahap ke Provinsi Bengkulu. Untuk tahap pertama, benih reguler telah masuk untuk lahan seluas 32.000 hektare, ditambah benih oplah seluas 3.000 hektare.
"Ini baru tahap pertama, mungkin akan ada bantuan benih reguler tambahan, kemudian tambahan untuk CSR serta kegiatan lainnya," ujarnya di Rejang Lebong, Rabu.
Berdasarkan data Dinas TPHP, sentra produksi padi terbesar di Provinsi Bengkulu saat ini berada di Kabupaten Bengkulu Selatan. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Lebong dan Kabupaten Seluma.
Sementara itu, Kabupaten Rejang Lebong berada di peringkat kelima karena memiliki luas lahan baku sawah (LBS) yang relatif terbatas, yaitu sekitar 3.000 hektare lebih. Meski demikian, daerah ini memegang peranan penting sebagai sentra produksi beras lama yang memiliki keunggulan varietas lokal.
"Rejang Lebong masuk sentra produksi beras yang lama dan terkenal dengan beras lokal seperti beras talang benih dan beras rimbo recap. Ini harus kita jaga, paling tidak agar luas tanam di sana tidak menurun," terang Rosmala.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah pusat mengalokasikan bantuan benih spesifik berdasarkan data calon petani calon lokasi (CPCL) di Kabupaten Rejang Lebong. Total bantuan benih padi reguler dan oplah yang dialokasikan untuk daerah itu mencapai 70 ton.
Pemprov Bengkulu membangun sinergi yang kuat antara jajaran pemerintah pusat, provinsi, hingga tingkat kabupaten dan kota untuk memastikan seluruh program berjalan linier dengan target nasional. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pelaksanaan rapat koordinasi (rakor) guna memetakan kendala lapangan sekaligus merumuskan solusi bersama.
Rosmala menegaskan bahwa target produksi 350 ribu ton GKG dari luas tanam 104.604 hektare merupakan beban yang cukup besar bagi daerah. Tanpa dukungan penuh dari pusat, capaian itu dinilai sulit direalisasikan.