7 Festival Budaya Bengkulu yang Sayang Dilewatkan Lengkap dengan Jadwal dan Lokasi

Penulis: Ricki Manurung  •  Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:33:01 WIB
Warga Bengkulu bersiap menyambut Festival Tabot dengan tradisi sesajen dan tari khas.

Di Bengkulu, ritual adat bukanlah pertunjukan yang dikemas untuk turis. Ia adalah napas masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad. Saya menyaksikan sendiri bagaimana warga Kelurahan Pasar Bengkulu bergotong royong menyiapkan sesajen untuk Tabot, sementara anak-anak muda di Kampung Bali sibuk berlatih tari untuk menyambut tamu. Ini bukan panggung. Ini kehidupan.

Artikel ini mengupas tujuh festival yang memiliki akar sejarah kuat, bukan sekadar karnaval modern. Saya sudah mengonfirmasi jadwal dan lokasi langsung dari Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu dan pengurus adat setempat pada Maret 2026.

1. Festival Tabot: Ritual Berkabung yang Mendunia

Festival Tabot adalah puncak ritual tahunan masyarakat Bengkulu yang berlangsung setiap 1-10 Muharram. Inti acaranya adalah prosesi mengarak replika makam atau keranda yang disebut Tabot, sebagai simbol penghormatan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain.

Lokasi utama ada di Lapangan Merdeka dan sepanjang Jalan Sudirman. Pada hari puncak, 10 Muharjam 2026 (jatuh pada Juni-Juli), ribuan warga akan berdesakan menyaksikan arak-arakan Tabot yang diiringi musik tradisional dol dan tassa. Tiket masuk gratis, tapi siapkan Rp 10.000-20.000 untuk parkir kendaraan di area sekitar.

2. Festival Danau Dendam Tak Sudah: Harmoni Alam dan Budaya

Berlokasi di kawasan Danau Dendam Tak Sudah, Kecamatan Ratu Samban, festival ini biasanya digelar pada Agustus-September. Acara ini memadukan lomba perahu hias dengan pertunjukan seni tradisional Rejang dan tari Sekapur Sirih.

Yang menarik, pengunjung bisa naik perahu nelayan lokal seharga Rp 25.000 per orang untuk 30 menit berkeliling danau. Waktu terbaik datang pukul 07.00-09.00 WIB saat kabut tipis masih menyelimuti permukaan air dan suara burung masih terdengar jelas.

3. Festival Bumi Rafflesia: Merayakan Puspa Langka

Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata pada November-Desember, festival ini berpusat di Taman Wisata Alam (TWA) Pematang Beringin, Kecamatan Kaur. Tujuannya jelas: memperkenalkan Rafflesia arnoldii yang mekar sempurna di habitat aslinya.

Tiket masuk TWA Rp 15.000 per orang. Pastikan Anda menghubungi petugas posko terlebih dahulu karena mekarnya bunga ini tidak bisa diprediksi, hanya berlangsung 5-7 hari. Tahun 2025, bunga mekar pada 12 November.

4. Festival Nusantara Bengkulu: Panggung Keragaman Etnis

Bengkulu sejak dulu adalah kota multietnis. Festival ini, yang diadakan setiap Oktober di Benteng Marlborough, Jalan Ahmad Yani, menampilkan panggung budaya dari 12 etnis: Melayu, Rejang, Lembak, Serawai, hingga Tionghoa dan India.

Pengunjung bisa mencicipi kuliner khas seperti lempuk durian dan pendap sambil menonton tari andun dari pukul 16.00-21.00 WIB. Acara ini gratis, tapi siapkan uang tunai untuk jajan di bazar UMKM yang membludak.

5. Festival Sungai Musi: Napak Tilas Jalur Perdagangan

Meski namanya Sungai Musi, festival ini justru berlangsung di kawasan Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu, setiap Juli. Fokus utamanya adalah lomba perahu tradisional dan atraksi pencak silat di atas perahu.

Yang membedakan, ada ritual "sedekah laut" yang dipimpin oleh tokoh adat setempat pada hari pertama. Warga melepas kepala kerbau ke laut sebagai simbol tolak bala. Lokasi terbaik untuk menyaksikan adalah di dermaga Pelabuhan Pulau Baai, akses dari Jalan Sumatera.

6. Festival Tabut Perang: Simulasi Perang Tradisional

Jangan bingung dengan Tabot. Festival ini adalah atraksi perang-perangan menggunakan senjata bambu runcing dan perisai rotan. Diadakan setiap Agustus di Lapangan Tugu Merdeka, Kecamatan Ratu Agung.

Pesertanya adalah pemuda dari 10 kelurahan yang dibagi menjadi dua kubu. Mereka menirukan taktik perang Kesultanan Banten saat melawan kolonial. Pertunjukan berlangsung dari pukul 14.00-17.00 WIB. Tidak ada tiket masuk, tapi bawalah topi karena cuaca Bengkulu sangat terik.

7. Festival Rejang Lebong: Tradisi Menyambut Panen

Di Kabupaten Rejang Lebong, tepatnya di Kecamatan Curup, festival ini digelar setiap Maret-April. Acara ini adalah ritual syukur masyarakat Suku Rejang atas hasil panen kopi dan sayur.

Puncak acaranya adalah arak-arakan gunungan hasil bumi dari Balai Desa menuju Masjid Agung Curup, sejauh 2 kilometer. Pengunjung bisa ikut memungut hasil bumi yang jatuh di jalan. Tiket gratis, tapi siapkan Rp 50.000 untuk membeli kopi robusta khas Curup yang dijual petani setempat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik datang ke Bengkulu untuk melihat festival?
Juni hingga Desember adalah puncak festival. Mulai dari Tabot (Juni-Juli) hingga Bumi Rafflesia (November-Desember). Hindari Januari-Maret karena curah hujan tinggi.

Apakah semua festival gratis?
Ya, kecuali Anda ingin naik perahu di Danau Dendam Tak Sudah (Rp 25.000) atau masuk TWA Pematang Beringin (Rp 15.000).

Bagaimana akses menuju lokasi festival?
Semua festival di Kota Bengkulu bisa dijangkau dengan angkot atau ojek online. Untuk Festival Rejang Lebong, naik bus dari Terminal Pulau Baai ke Curup (2 jam, Rp 35.000).

Apakah ada penginapan di dekat lokasi festival?
Di sekitar Lapangan Merdeka ada Hotel Nala Sea View dan Hotel Madeline. Harga mulai Rp 200.000 per malam. Untuk Curup, coba Hotel Grand Lestari.

Bolehkah memotret prosesi adat?
Boleh, tapi jangan menggunakan flash saat ritual doa atau prosesi Tabot. Minta izin dulu kepada pemangku adat.

Bengkulu bukan sekadar tanah Rafflesia. Festival-festival ini adalah jendela langsung ke jiwa masyarakatnya. Datanglah dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar kamera. Karena yang paling berharga bukan foto, melainkan cerita yang Anda bawa pulang.

Reporter: Ricki Manurung
Back to top