JAKARTA — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan belum menerima laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni lalu. Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI Heni Hamidah menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh perwakilan RI di kawasan tersebut dan situasi WNI saat ini masih dalam kondisi aman.
"Kami sudah berkoordinasi dengan perwakilan-perwakilan kami di sana dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak, yang melaporkan, atau menjadi korban dari heatwave; itu belum," kata Heni Hamidah di Jakarta, Rabu.
Meski demikian, perwakilan RI di negara-negara Eropa tetap mengimbau seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah-langkah antisipatif disarankan agar masyarakat Indonesia di sana tidak terlalu terdampak oleh suhu tinggi yang ekstrem.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian tambahan di seluruh Eropa selama sepekan terakhir akibat gelombang panas ekstrem. Data ini dilaporkan oleh Anadolu pada Minggu (28/6).
"Lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Ghebreyesus menyebut stres akibat panas sebagai "pembunuh senyap". Ia menambahkan bahwa bangunan rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menahan suhu setinggi itu.
WHO saat ini bekerja sama dengan negara-negara anggota dan mitra untuk memperkuat kesiapan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan terhadap cuaca panas ekstrem. Imbauan serupa juga terus disampaikan kepada WNI yang berada di wilayah terdampak.