BENGKULU — Casey Affleck mengaku malam kemenangan Oscar-nya lewat "Manchester by the Sea" sebagai pengalaman yang "cukup traumatis". Dalam sesi wawancara panggung di Zurich Film Festival, aktor sekaligus sutradara itu juga memuji cara kerja Christopher Nolan dan mengungkap film terbarunya, "Company", belum benar-benar selesai.
Casey Affleck naik panggung Zurich Film Festival untuk sesi wawancara terbuka. Ia membahas karier aktingnya, pengalamannya bekerja dengan Christopher Nolan, hingga proyek penyutradaraan terbarunya. Salah satu momen yang paling ia kenang justru datang dari malam penghargaan Academy Awards.
Malam Oscar yang Masih Membekas
Affleck meraih Piala Oscar lewat penampilannya di "Manchester by the Sea" arahan Kenneth Lonergan. Ia mengaku sempat yakin Denzel Washington yang akan menang untuk "Fences".
"Saya berharap Denzel Washington yang menang. Itu momen yang mengerikan harus berdiri di panggung itu. Saya tidak bisa mengingat apa pun yang saya ucapkan," kenangnya.
Yang paling ia sesalkan, ia lupa berterima kasih kepada orang-orang penting. Ia tidak menyebut Kenneth Lonergan, juga tidak menyempatkan diri berterima kasih kepada anak-anaknya yang mendorongnya mengerjakan film itu.
"Itu cukup traumatis," ujarnya. Ia masih ingat betul momen saat turun dari panggung dan melihat Leonardo DiCaprio berdiri di balik layar. Di tengah kebingungan, DiCaprio justru tertawa dan memeluknya erat. "Lalu saya merasa lebih baik," tambah Affleck.
Telepon ke Christopher Nolan yang Berujung Salah
Affleck pernah bekerja sama dengan Nolan dalam "Oppenheimer" dan "Interstellar". Suatu hari, ia sedang mengantar anaknya pulang sekolah dan berdebat soal "Tenet". Ia pun memutuskan menelepon Nolan langsung untuk menyelesaikan perdebatan itu.
"Kami menghubunginya dan menanyakan sesuatu yang sebenarnya bisa kami cari sendiri di Reddit. Setelah dia menjawab, jawabannya terasa begitu jelas sampai saya malu," katanya. "Itu saja. Saya tidak pernah meneleponnya lagi, dan dia tidak pernah menelepon saya."
Meski begitu, Affleck menyebut pengalaman bekerja dengan Nolan sebagai sesuatu yang istimewa. "Itu sebuah kehormatan, sungguh. Semua orang merasakan hal yang sama. Saat berada di set-nya, suasananya berbeda dari film lain. Dia inklusif, dan memberi arahan yang minim tapi brilian. Dia mengangkat semua orang di sekitarnya," puji Affleck.
Ia juga mengaku mengagumi cara Nolan memilih proyek. Menurut Affleck, Nolan membuat film-film besar dan sukses tanpa berusaha menyenangkan orang lain. "Dia membuat sesuatu yang menarik baginya. Kalau saya bisa seperti itu, saya akan merasa beruntung," ujarnya.
Ben Affleck dan Cara Memilih Film
Affleck juga menyebut sang kakak, Ben Affleck, sebagai contoh lain soal pemilihan proyek. Menurutnya, Ben cerdas dalam membuat filmnya sukses tanpa harus berpura-pura atau ikut arus pasar.
"Saya tahu itu karena saya ada di sana saat dia bilang: 'Saya punya ide, tapi saya tidak yakin saya akan menyukainya.' Bukan: 'Saya punya ide, tapi saya tidak yakin ini bisa dijual,'" kata Affleck.
"Company" Belum Rampung Meski Sudah Tayang Perdana
Film terbaru Affleck, "Company", sudah menggelar tayang perdana di Venice. Namun ia menegaskan film itu belum selesai sepenuhnya. "Saya berpikir: mungkin festival film bisa jadi tempat orang berbagi karya dengan komunitas, mendapat masukan, lalu menyelesaikannya? Sebagai sutradara, menakutkan membawa film yang masih saya kerjakan, tapi ada hal-hal yang ingin saya ubah," jelasnya.
"Company" dibintangi sejumlah nama besar, termasuk Nick Nolte, Ben Mendelsohn, Adelaide Clemens, dan Scoot McNairy. Film ini juga menampilkan ibu, pasangan, dan anak-anak Affleck sendiri. Ia mengaku ingin melibatkan orang-orang terdekatnya sebanyak mungkin dalam proyeknya.
Soal Nolte, Affleck sempat melontarkan lelucon. "Setahu saya, Nick berusia 130 tahun. Bukan karena dia tua, tapi karena saya tidak ingat ada masa ketika dia tidak bermain film. Dia masih sepenuhnya berkomitmen," katanya.
Label "Orang Luar" di Hollywood
Sepanjang kariernya, Affleck kerap dianggap sebagai "orang luar" di industri Hollywood. Label itu pernah muncul dalam liputan majalah Variety pada 2016, dan ia mengaku masih ingat betul.
"Itu membuat saya marah. Saya berpikir: saya akan selamanya dianggap orang luar, apa pun yang saya lakukan. Publik menilai orang dengan satu cara, dan butuh banyak usaha untuk mengubah persepsi itu," ujarnya.
Namun ia kemudian berubah pikiran. "Saya justru menyukainya. Saya tidak ingin jadi 'orang dalam' Hollywood. Kulturnya tidak bagus. Saya tidak menyukai film-film yang dibuat di sana atau sistemnya," tegas Affleck.
Ia menutup sesi dengan pesan soal jalan karier. "Ada ilusi bahwa kita memilih jalan yang kita inginkan. Padahal jalan itulah yang memilih kita," katanya. Menurutnya, seorang aktor harus berani membuat kesalahan, mengambil risiko, dan menerima penolakan. "Hal terbaik dari pekerjaan ini adalah kamu bisa membawa semua perasaan sulit itu dan mengubahnya jadi sesuatu," pungkasnya.