Pencarian

Stasiun Bogor Disulap Jadi Kawasan Terpadu, KAI dan Pemkot Siapkan Integrasi 3 Moda

Jumat, 21 Agustus 2026 • 11:12:31 WIB
Stasiun Bogor Disulap Jadi Kawasan Terpadu, KAI dan Pemkot Siapkan Integrasi 3 Moda
Suasana kawasan Stasiun Bogor yang akan ditata ulang oleh KAI dan Pemkot Bogor untuk integrasi tiga moda transportasi.

BENGKULU — Revitalisasi ini bukan sekadar polesan wajah stasiun. KAI dan Pemkot Bogor menargetkan integrasi penuh antarmoda—mulai dari kereta rel listrik (KRL), bus kota, hingga angkutan kota (angkot)—dalam satu kawasan yang nyaman dan mudah diakses pejalan kaki. Langkah ini menjadi krusial mengingat volume penumpang di Stasiun Bogor terus meningkat seiring tingginya mobilitas warga yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya.

Mengapa Stasiun Bogor Jadi Prioritas

Stasiun Bogor merupakan salah satu stasiun tersibuk di lintas Jabodetabek. Setiap harinya, puluhan ribu penumpang bertransaksi di stasiun ini, mayoritas adalah pekerja penglaju yang mengandalkan KRL. Tingginya pergerakan orang ini kerap menimbulkan kepadatan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.

Direktur Utama KAI, Didiek Hartantyo, menyatakan penataan kawasan stasiun merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk menghadirkan transportasi publik yang terintegrasi. "Kami bersama Pemkot Bogor akan menata area sekitar stasiun agar terjadi perpindahan antarmoda yang mulus, aman, dan nyaman bagi pengguna," ujarnya dalam keterangan resmi di Bogor.

Skema Penataan dan Integrasi Antarmoda

Penataan kawasan ini akan mencakup beberapa aspek penting. Pertama, pengaturan ulang sirkulasi kendaraan pribadi dan angkutan umum di sekitar stasiun agar tidak tumpang tindih. Kedua, penyediaan fasilitas park and ride yang memadai bagi pengendara motor dan mobil yang ingin beralih ke kereta.

Selain itu, desain kawasan akan mengedepankan konektivitas pejalan kaki. Jalur pedestrian yang lebar, aman, serta peneduh akan dibangun untuk menghubungkan stasiun dengan halte bus kota dan titik-titik pemberhentian angkot. Konsep ini diharapkan mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi massal.

Apa Dampaknya bagi Penglaju dan Warga Bogor?

Bagi pengguna KRL, revitalisasi ini menjanjikan pengalaman naik kereta yang lebih efisien. Waktu yang biasanya terbuang untuk berpindah moda atau menunggu kendaraan lanjutan bisa dipangkas signifikan. Kawasan stasiun yang tertata juga meningkatkan aspek keselamatan dan keamanan, terutama bagi penumpang perempuan dan anak-anak.

Bagi warga Bogor secara umum, penataan ini diharapkan mampu mengurai kemacetan di sekitar Jalan Nyi Raja Permas dan Jalan Mayor Oking yang kerap menjadi titik jenuh. Dengan sirkulasi yang lebih baik, kawasan stasiun akan berubah menjadi ruang kota yang lebih manusiawi dan tidak lagi terkesan kumuh.

Target dan Langkah Selanjutnya

KAI dan Pemkot Bogor saat ini tengah melakukan kajian teknis dan pembebasan lahan untuk area penunjang. Proses perencanaan melibatkan Dinas Perhubungan Kota Bogor serta ahli tata kota. Revitalisasi ini juga diselaraskan dengan rencana pengembangan kereta cepat dan pengoperasian LRT Jabodebek yang di masa depan akan memperkuat konektivitas Bogor dengan wilayah sekitarnya.

Ke depan, kawasan Stasiun Bogor diharapkan menjadi simpul transportasi modern yang tidak hanya melayani pergerakan harian, tetapi juga menjadi ikon baru kota hujan. Keberhasilan proyek ini akan menjadi model bagi revitalisasi stasiun-stasiun besar lainnya di Indonesia.

Follow www.porosbengkulu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks